Setelah capek mengukur sepanjang jalan Malioboro hingga Alun-Alun Kidul, pukul 15.00 WIB 20 Oktober 2011 aku dan temanku istirahat di kawasan 0 kilometer Jogjakarta, tapatnya di depan Monumen Serangan Umum 1 maret sebelahnya benteng Vredeburg. Di pelataran monumen yang bangunannya seperti panggung terbuka itu sepertinaya ada sedikit keramain orang-orang duduk. Di kejauhan ada beberapa orang dengan tampilan busana dan riasan khusus yang tampak seperti penari tradisional. Sepertinya menarik untuk mendekat dan ternyata ada Pentas Tari "Cross Gender" LPK Tari Natya Lakshita pimpinan Didik Nini Thowok.
Didik Nini Thowok adalah salah satu Maestro Tari Indonesia asal Jogjakarta, pengajar di ISI Jogjakarta dan pengasuh LPK Tari Natya Lakshita. Saya tidak terlalu paham konsep acara Cross Gender yang dimaksud, saya cuma menikmati pertunjukan gratisannya. Yang jelas pertunjukan jananan ini akan dipentaskan di Taman Budaya -yang bertiket dan lebih banyak pertunjukannya- pada esok malamnya . Acara pimpinan Didik Nini Thowok -dedengkotnya penari coss-gender- ini menampikan para penari cross-gender -atau dalam bahasa saya waria atau bencong- dari beberapa daerah se-Indonesia. Penari cross gender ini menari tampil tampak gemulai daripada penati wanita asli. hmm..
Pertunjukan gratis ini menampilkan kreasi tarian yang ditampilkan oleh anak-anak, remaja, dewasa dan kaum cross-gender itu sendiri tentunya. Ada satu pertunjukkan tari yang paling keren -menurut saya- yang berhasil saya rekam. Saya tidak tahu nama tariannya, yang jelas menceritakan tentang batik Indonesia. Langsung saja cekidot..
Tari Batik ~ Tradisional Kontemporer
Ini dia penampakan master tari Didik Nini Thowok dalam Pantomim
Penampakan para Cross Gender :maho
Sekian yang dapat saya bagikan, singkat cerita saya harus meninggalkan kota Jogkakarta sehari sebelum acara Jogja Java Carnival digelar. Yah, mau bagaimana lagi, Sampai jumpa Jogjakarta.